Interoperabilitas: babak baru bagi industri software
Masih di Singapura, hari ini pagi-pagi banget pukul 07.30 waktu setempat saya mewawancarai Bradford Smith, Senior Vice President, General Consel dan Corporate Secretary Microsoft Corp. Ini kali pertama saya berkunjung ke kantor regional Microsoft Asia Pasifik di kawasan Marina Bay, bersebelahan dengan megaproyek Casino yang sedang dibangun.
Sambil minum kopi, salah satu topik yang kami diskusikan adalah soal interoperabilitas yang memang jadi hot issue di Regional Innovation Forum 2008 kemarin. Brad mengatakan Microsoft serius membuka diri untuk mewujudkan interoperabilitas teknologinya dengan pihak lain. Bahkan, dia mengatakan inisiatif ini sebagai babak baru bagi Microsoft dan industri peranti lunak pada umumnya. Benar juga, Microsoft adalah perintis industri peranti lunak dunia. Apa pun yang dilakukan Microsoft pasti berdampak pada industri secara keseluruhan.
Dia menyebut sebagai babak baru karena mengubah cara Microsoft dalam mengembangkan peranti lunak. Inisiatif interoperabilitas ini, “mengubah software engineering karena dalam membuat peranti lunak, Microsoft juga harus menyediakan dokumentasi teknis yang memadai kepada pihak-pihak lain supaya mereka bisa mempelajari dan mencari cara bagaimana mengkoneksikan teknologinya dengan teknologi Microsoft.”
Lebih lanjut Brad mengatakan cara pengembangan seperti itu menunjukkan bahwa peranti lunak kini semakin matang sebagai industri. Sebelumnya, perusahaan peranti lunak mengembangkan teknologinya sendiri-sendiri dan berlomba-lomba menjadikanya sebagai standar de-facto yang tertutup. Namun kini, saatnya membangun ‘jembatan’ antar standar teknologi dari berbagai vendor. Apa yang dijembatani ? Protokol komunikasi dan format data.
Kami berdiskusi panjang lebar, termasuk juga tentang masalah pembajakan peranti lunak di Indonesia dan bagaimana peran asosiasi industri. Wawancara Brad adalah salah satu wawancara terbaik, bahasa mudah dimengerti dibantu dengan analogi ketika menjelaskan suatu hal. Tapi kayaknya dia masih jetlag tuh.
Categories: Enterprise Systems Tags: interoperabilitas, microsoft, peranti lunak, regional innovation forum, standar
There are 3 comments. Leave a comment!
¬ Frans Thamura
#54 April 21st, 2008 at 11:45 pm
interoperabilitas memang babak baru dari microsoft, dan kasus namespace yang lock-in dari sang pencipta standard SOAP adalah momok utama dari kasus ini. apakah pihak media sudah mengetahuinya? dan bilamana sebuah SOA producer menggunakan sebuah metadata namespace yang tidak standard, ini artinya masuk ke dunia tidak interoperable.
hell in action gitu ganti.
¬ dojoKaizeN
#55 March 4th, 2009 at 11:47 am
nice artikel,
cuman mau sharing saja, dari beberapa kasus dalam pengimplementasian beberapa aplikasi yang di develop oleh pihak microsoft sendiri mereka masih banyak yang menggunakan sebuah standard produk mereka sendiri. salah satunya adalah microsoft Office Communicator yang di dalam aplikasi tsb mereka masih menggunakan standard protocol nya sendiri, tapi kalau kedepannya microsoft akan standard aplikasi yang mereka dengan aplikasi yang ada di market itu akan jadi sebuah rencana yang baik.
¬ Frans Thamura
#56 September 6th, 2009 at 4:05 pm
so, yang detailnya gimana, Microsoft termasuk perusahaan yang paling tidak interoperable didunia loh, tapi yang termasuk aktif buat standard interoperabilitas. He has money to make the thing wasnt interoperable and still make money.
Sudah pelajari EIF (European Interoperable Framework)