Iklan bisu di Videotron
Videotron, LED billboard, atau digital billboard adalah kata lain dari papan reklame digital yang memberikan nuansa kemeriahan bagi Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya di Indonesia. Di Jakarta, salah satu videotron yang menarik perhatian berada di Jl.Asia Afrika, berdiri persis di depan pintu masuk ke Senayan City. Kita juga bisa menjumpai videotron berukuran lebih kecil bertengger di atas pos polisi di kawasan, Senayan, Sudirman hingga Thamrin.
Kelebihan videotron dibandingkan papan reklame konvensional adalah kemampuannya menampilkan gambar bergerak. Materi Iklan juga bisa diganti dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan papan reklame konvensional. Hasilnya, iklan yang tampil di videotron selain lebih meriah, komputer di dalamnya mampu membuat iklan lebih dinamis dan fleksibel sesuai dengan kondisi di lapangan.
Komunikasi visual pada iklan di videotron hampir sama dengan iklan TV (TVC) namun minus suara. Justru disini masalahnya. Semua videotron yang saya temui di Jakarta menampilkan materi untuk TVC. Beruntung saya masih bisa mengenali brand yang diiklanlan, karena saya ingat pernah melihatnya di TV atau bisa menyaksikan iklan videotron secara utuh, atau di bagian akhir di mana brand tersebut muncul.
Tapi tetap saja jadi aneh menonton iklan bisu seperti itu. Lucunya “Geng Hijau” di iklan Sampurna Hijau dan kedinamisan musik yang mengiringi iklan Sprite praktis tidak tertangkap. Bahkan, iklan Klik BCA jadi seperti film bisu. Padahal percakapan antar tokoh dalam iklan itu adalah bagian penting dari komunikasi Klik BCA.
Medium dan Konten
Iklan videotron adalah salah satu contoh di mana medium tidak diisi oleh konten yang sesuai dengan karakteristik mediumnya. Ini seperti media online yang diisi iklan media cetak pada awal era dotcom sepuluh tahun silam. Mungkin ini bagian dari proses edukasi. Akan tetapi, proses edukasi yang sungguh mahal karena saya yakin biaya placement di videotron jauh lebih mahal dibandingkan di media online. Biaya mahal tetapi tidak efektif.
Mahal karena tingginya total biaya kepemilikan videotron. Diluar biaya perizinan, panel videotron sangat mahal, dapat mencapai di atas lima ribuan dollar AS per meter persegi. Belum lagi biaya operasional. Panel videotron buatan AS dirancang untuk cuaca dingin, sementara suhu di Jakarta yang bisa mencapai 38 derajat Celcius bisa membakar komputer dan panel videotron. Untuk itu, videotron membutuhkan pendinginan terus-menerus layaknya data center. Videotron berukuran sedang di atas pos-pos polisi membutuhkan dua unit AC untuk menjaga suhu tetap dingin. Bayangkan berapa biaya listriknya.
Alternatif lain adalah videotron panel surya. Namun kita tahu biaya panel surya sangat mahal, antara lain karena tidak ada insentif pajak dari pemerintah untuk teknologi hijau seperti ini.
Biaya videotron memang mahal, namun mahal itu relatif terhadap benefit yang diperoleh. Di sini, memaksakan iklan TVC di videotron mahal bukan karena biaya operasionalnya tinggi, tetapi karena benefitnya rendah (antara lain diukur dari efektivitasnya menyampaikan pesan). Tidak bisa setengah hati dalam memanfaatkan videotron dengan hanya medium saja tanpa menyediakan konten yang sesuai, sehingga hasilnya pun tidak maksimal.
gambar dari Flickr CC lisence.
Categories: Marketing, Multimedia Technology Tags: advertising, digital media, videotron